Haidh dan Hukum-Hukumnya

Alloh Subhanahu Wa  Ta’ala berfirman,

“Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah : ‘Haidh itu adalah kotoran.’ Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Alloh kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.”

(Al-Baqarah : 222)

 Haidh adalah : darah kebiasaan yang  keluar dari dalam rahim pada waktu-waktu tertentu, Alloh telah menciptakannya untuk hikmah memberikan makan anak yang ada dalam perut ibunya. Karena anak tersebut butuh makanan. Apabila menyertai ibunya di dalam makan, niscaya ibunya akan lemah kekuatannya. Sehingga Allah menjadikan makanan ini untuk anak.

Karena itu jarang orang yang hamil mengalami haidh. Apabila melahirkan, maka Allah menggantikan makanan tersebut dengan air susu yang mengalir dari kedua payudara ibu, supaya anak biasa makan dari padanya. Karena itu jarang orang yang menyusui mengalami haidh. Apabila seorang wanita telah mengalami masa hamil dan menyusui tetaplah darah tersebut tidak mempunyai saluran (penggunaannya); menetap di suatu tempat dalam rahim seorang wanita.

Kemudian keluar pada umumnya setiap bulan enam atau tujuh hari. Kadang lebih dan kadang kurang. Panjang dan pendeknya bulan seorang wanita adalah tergantung kebiasaan yang telah diatur oleh Allah.

Bagi wanita yang haidh ketika sedang haidh dan ketika selesainya memiliki hukum-hukum yang telah dirinci di dalam Al Kitab dan As Sunnah;

  • Dari hukum-hukum ini adalah bahwa seorang wanita yang sedang haidh tidak boleh mengerjakan shalat dan puasa ketika haidh. Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam bersabda kepada Fathimah bintu Abi Hubaisy,

“Apabila haidh datang, maka tinggalkanlah shalat.”

(muttafaq’alaih dari ‘Aisyah :Al Bukhari (331) {1/84} Al Haidh 62; dan Muslim (751) {2/241})

Apabila wanita yang haidh mengerjakan puasa atau shalat ketika sedang haidh, maka tidak sah puasa dan shalatnya. Karena Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wassalam telah melarang wanita yang haidh dari amalan tersebut.

(ini adalah apa yang dipahami dari penelitian. Telah tsabit kandungan masalah itu pada beberapa hadist, diantaranya hadist ‘Aisyah di dalam shahih Al Bukhari [304] [1/526] Al Haidh 6 )

Dan larangan memberikan konsekuensi tidak sahnya suatu amalan. Bahkan itu merupakan bentuk perbuatan maksiat terhadap Alloh dan Rasul-Nya Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.

  • Apabila telah suci dari haidhnya, maka dia supaya mengganti puasa yang ditinggalkan dan tidak mengganti shalat menurut ijma’ ahli ilmu. ‘Aisyah Rodhiyallohu’anhu berkata,

“Kami terkena haidh di masa Rasululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, maka kami diperintah untuk mengganti puasa dan tidak diperintah untuk mengganti shalat.”

(Muttafaq’alaih dengan hadist seperti itu: Al Bukhari [321][1/546]; dan Muslim [761][2/251])

  • Diantara hukukm-hukum bagi orang yang haidh adalah tidak boleh untuk thawaf di Baitulloh, menbaca Al Qur’an, menetap di mesjid, dan haram bagi suami untuk menyetubuhi pada farj (kemaluan) nya hingga wanita tersebut selesai haidh dan mandi.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

“Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah : ‘Haidh itu adalah kotoran’. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu ditempat yang diperintahkan Allah kepadamu.”

(Al Baqarah : 222)

Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

“Perbuatlah segala sesuatu kecuali nikah (bersetubuh).”

(diriwayatkan oleh jama’ah ahli hadist kecuali Al Nukhari. Dan di dalam lafadz lain : “kecuali jima’ (senggama)).

  • Diperbolehkan bagi suami wanita yang sedang haidh untuk bersenang-senang dengannya kecuali jima’ (senggama) pada farj seperti mencium, mengusap dan lain sebagainya.
  • Tidak boleh bagi suami wanita yang sedng haidh untuk mencerainya ketika dalam keadaan haidh. Allah  Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Hai Nabi, apabila kamu menceraikan istri-istrimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) ‘iddahnya (yang wajar).” ( Ath Thalaaq : 1)

Yakni, ketika mereka suci dan belum disetubuhi. Dan Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam telah memerintahkan orang yang menceraikan istrinya ketika dalam keadaan haidh untuk merujuknya, kemudian menceraikannya kembali ketika suci apabila dia menghendaki.

Suci adalah : berhentinya darah. Apabila telah berhenti darahnya, berarti wanita tersebut telah suci dan berakhir masa haidhnya. Maka wajib baginya untuk mandi dan mengerjakan amalan-amalan yang dilarang disebabkan oleh haidh.

Apabila telah suci melihat bintik-bintik hitam atau kekuning-kuningan, maka tidak perlu memperdulikannya; berdasar perkataan Ummu ‘Athiyyah Rodhiyallohu’anhu,

“Kami tidaklah menganggap bintik-bintik hitam dan kekuning-kuningan sebagai haidh.”

(Diriwayatkan oleh Al Bukhari dan lainnya) [Dikeluarkan oleh Al bukhari (326)(1/552); An Nasa’I (336)(1/204); Ibnu Majah (647)(1/359); Abu Dawud (307)(1/155); di dalamnya terdapat tambahan شيئا, الطهر, بعد (setelah suci sebagai haidh)

Riwayat tersebut mempunyai hukum marfu’ (samapai kepada Nabi; Karena merupakan taqrir (keterangan) dari Beliau Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.

Peringatan Penting :

 

Apabila wanita yang haidh dan nifas suci pada waktu sebelum terbenamnya matahari, maka wajib baginya untuk mengerjakan sholat dzuhur dan ‘ashr pada hari itu. Dan barangsiapa suci pada waktu sebelum terbitnya fajar, maka wajib baginya untuk mengerjakan shalat maghrib dan ‘isya dari malam tersebut. Karena waktu shalat yang kedua adalah waktu bagi shalat yang pertama dalam keadaan ‘udzur.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahulloh berkata, “Karena inilah jumhur ‘ulama seperti Mlaik, Syafi’I, dan Ahmad berkata, ‘Apabila wanita yang haidh suci di akhir siang, maka supaya mengerjakan shalat dzuhur dan ‘ashar semuanya. Dan apabila suci di akhir malam, maka mengerjakan shalat maghrib dan ‘isya semuanya. Sebagaimana hal itu dinukil dari Abdurahman bin ‘Auf, Abu Hurairah, dan Ibnu ‘Abbas; karena waktu antara dua shalat itu bergabung ketika dalam keadaan ‘udzur. Apabila wanita suci di akhir siang, maka waktu dzuhur masih ada, maka supaya mengerjakan shalat tersebut sebelum ‘ashr. Dan apabila suci di akhir malam, maka waktu maghrib masih ada dalam keadaan ‘udzur, maka supaya mengerjakan sholat itu sebelum ‘isya’” (Majmu Fatawa SyaikhAl Islam [22/76])

Adapun jika masuk padanya waktu shalat kemudian dia haidh atau nifas sebelum mengerjakan shalat, maka pendapat yang rajih (kuat), adalah tidak wajib bagi wanita tersebut untuk mengganti shalat yang dia dapati dari awal waktu kemudian haidh atau nifas sebelum mengerjakannya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahulloh berkata tentamasakah ini, “Dalil yang paling terang adalah mahdzabnya Abu Hanifah dan Malik bahwa tidak; sebab mengqodho (mengganti) diwajibkan karena adanya sesuatu yang baru. Dan di disini tidak ada perkara yang mengharuskan wanita tersebut untuk mengqadha. Dan juga dia mengakhirkan dengan pengakhiran yang boleh, maka dia bukanlah orang yang bermudah-mudahan (lalai).

Adapun orang yang tidur atau orang yang lupa walaupun dia juga bukan orang yang bermudah-mudah (lalai) ; apa yang dikerjakannya bukanlah qadha, tetapi itu adalah waktu shalat bagi haknya ketika bangun atau ingat.” (Majmu Fatawa Syaikh Al Islam [23/335])

Dikutip dari Buku Ringkasan Fiqih Islami oleh Asy Syaikh Dr. Salih bin Fauzan bin ‘Abdillah  Aalu Fauzan Hafidzahullah dalam Bab Tentang Hukum-Hukum Haidh dan Nifas halaman 105-110, Penerbit Pustaka As Salafiyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s